Petani Sawit Menjerit akibat Kemarau Panjang 2026

Petani Sawit Menjerit akibat Kemarau Panjang 2026
O Tuhan, segeralah turunkan hujan berkat-Mu. Petani sawit menjerit akibat kemarau panjang 2026. Ist.

Bukan cuma omongan di grup WhatsApp atau berita. Dari Jambi, Kalbar, sampai Riau, banyak petani yang merasakan langsung di kebunnya sendiri. 

Produksi TBS mereka anjlok. Ada yang bilang turun 50 sampai 60 persen dibanding tahun-tahun normal. Tanah retak. Pohon terlihat stress. Daun mulai menguning. Buah nggak berkembang maksimal. 


"Yang biasanya panen dua ton per hektar, sekarang cuma dapat 700–800 kilogram, bahkan ada yang lebih parah," Torunas Moncas, petani sawit mandiri dari daerah Jangkang, mengaku.

Baca Harga TBS sawit Kalimantan Barat Tembus Rp3.765 per kg


Petani swadaya paling merasakan berat kondisi persawitan. Mereka nggak punya sistem irigasi yang memadai, modal terbatas, dan harus mengandalkan hujan. 


Begitu hujan tak kunjung datang berbulan-bulan, langsung kelihatan hasilnya. Biaya pupuk dan tenaga kerja tetap jalan, tapi hasil panen jauh di bawah harapan. Di beberapa daerah, petani sudah mulai menjerit karena pendapatan anjlok, sementara kebutuhan rumah tangga tetap jalan terus.


Dampaknya nggak langsung, tapi lebih panjang

Yang bikin situasi ini lebih runyam, efek kekeringan pada sawit nggak selalu langsung kelihatan. Sawit punya siklus yang panjang. Tandan yang dipanen hari ini sebenarnya sudah terbentuk berbulan-bulan sebelumnya. Jadi saat kemarau sedang parah, produksi kadang masih kelihatan “lumayan” karena buah yang sudah jadi masih bisa dipanen.


Tapi di balik itu, pohon sudah mengalami stres air. Proses fotosintesis terganggu, pembentukan bunga betina berkurang, banyak bunga yang gugur, dan tandan yang terbentuk jadi lebih kecil. 

Efeknya baru benar-benar terasa beberapa bulan kemudian, bahkan bisa sampai 2027. Artinya, meski hujan sudah mulai turun, hasil panen belum tentu langsung pulih. Petani harus siap menghadapi panen yang masih rendah di tahun depan.


Kalimantan Barat paling kacau karena logistik


Di Kalimantan Barat, masalahnya berlapis. Selain produksi turun, sungai Kapuas dan Melawi surut parah. Kapal dan tongkang yang biasa mengangkut CPO susah lewat. 

Baca Konflik Agraria di Kalimantan Barat yang Terus Menggila


Banyak pabrik kelapa sawit terpaksa batasi operasi atau bahkan stop sementara karena tangki penampungan sudah penuh dan CPO nggak bisa dikirim.


Akibatnya, petani yang biasanya setor TBS ke pabrik terdekat sekarang harus cari pabrik yang masih terima. Ada yang harus antre 1–2 hari. Ada yang terpaksa bawa jauh dengan biaya tambahan. Harga di tingkat petani ikut tertekan. Belum lagi risiko buah rusak di perjalanan karena terlalu lama menunggu. 


Beberapa petani mengaku rugi dua kali. Yaitu produksi turun dan harga jual juga lebih rendah. "Tahun 2026 sangat menantang. Sudah demikian, kondisi ekonnomi nasional tidka baik-baik saja," kata Langkui, seoran petani sawit mandiri di Sanggau.


Dampak nasional dan nasib petani ke depan


Kalimantan menyumbang lebih dari sepertiga produksi sawit nasional. Kalau di sana saja produksi bisa turun 12–15 persen di kuartal terakhir 2026 karena kekeringan plus kebakaran, jelas dampaknya besar ke angka nasional. 


Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan beberapa analis sudah turunkan proyeksi. Ada yang bilang produksi nasional bisa turun 1–2 juta ton, bahkan lebih jika kondisi kering berlanjut.


Petani swadaya tetap jadi kelompok paling rentan. Mereka nggak punya cadangan modal seperti perusahaan besar. 

Baca Minyak Sawit: Pengertian, Fakta Menarik, dan Manfaatnya untuk Kehidupan Sehari-hari di Indonesia


Kalau TBS susah dijual dan harganya tertekan, langsung terasa di dapur. Beberapa sudah mulai tanam pisang atau tanaman lain di sela kebun buat nutupin kekurangan, tapi itu cuma solusi sementara. Intinya, kemarau panjang tahun ini memang lagi memukul bisnis sawit dari bawah. 


Bukan cuma soal angka produksi nasional yang turun, tapi nasib ratusan ribu petani yang hidupnya bergantung penuh dari kebun sawit.


Periset dan penulis Masri Sareb Putra

Buku Satwa

Thank you for your comment

Post a Comment

Thank you for your comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post