Selamatkan Pinang dari Tradisi Panjat Pinang 17 Agustusan

Tebang pinang sebagai habitus setiap 17 Agustus, perlahan hilang.
Panjat tanpa tebang pohon pinang mulai tahun depan, mungkinkan? Dok. Rmsp.

Setiap bulan Agustus, terutama di Jakarta, suasana kemerdekaan selalu ditandai dengan lomba panjat pinang. Tiang-tiang tinggi, licin, penuh hadiah di puncaknya, menjadi ikon perayaan 17 Agustus.

Namun, ada satu fakta yang jarang disadari publik: ribuan batang pinang ditebang setiap tahun hanya untuk lomba panjat pinang. Padahal, pinang adalah salah satu palma bernilai ekonomi tinggi yang bisa menghasilkan devisa negara melalui ekspor.


Berapa Batang Pinang Ditebang di Jakarta?

Mencari angka pasti memang sulit, sebab tidak ada catatan resmi. Tapi sejumlah data lapangan memberi gambaran:

- Pedagang pinang di Manggarai, Jakarta, pernah menjual 340 batang pada 2022, dan sekitar 70 batang pada 2023.

- Event besar seperti Ancol menyiapkan 51 batang pinang (2023), bahkan pernah 188 batang di tahun sebelumnya.

- Jakarta memiliki lebih dari 2.700 RW. Bila 10% saja mengadakan lomba dengan pinang asli, diperkirakan 1.000–3.500 batang pinang ditebang setiap tahunnya.

Angka itu jelas bukan jumlah kecil. Jika setiap batang pinang yang ditebang sebenarnya masih produktif, kita sedang kehilangan sumber ekonomi yang bisa menghasilkan buah selama puluhan tahun.


Mengapa Sayang Menebang Pohon Pinang?

1. Umur Produktif Panjang

Pohon pinang mulai berbuah di usia 4–8 tahun. Produksi terbaik ada di umur 10–15 tahun, dan bisa terus berbuah hingga 40–60 tahun. Artinya, satu batang pinang yang ditebang untuk lomba mungkin masih bisa menghasilkan buah bernilai ekonomi selama beberapa dekade.

2. Nilai Ekspor Besar

Data resmi menunjukkan, ekspor pinang Indonesia pada 2023 mencapai USD 127,39 juta, dan dalam lima bulan pertama 2024 sudah tembus USD 49,1 juta. Permintaan terbesar datang dari India, Bangladesh, hingga Timur Tengah.

3. Semua Bagian Pinang Bermanfaat

Biji/buah pinang → bahan ekspor, obat tradisional, bahan industri farmasi.

Batang pinang → bahan bangunan ringan, perabot sederhana.

Daun dan pelepah → bisa diolah jadi piring ramah lingkungan atau kerajinan.

Dengan manfaat seluas ini, menebang pohon pinang produktif hanya untuk lomba jelas merugikan ekonomi rakyat.


Alternatif Ramah Lingkungan untuk Panjat Pinang

Tradisi panjat pinang tidak perlu dihapus. Tetapi, kita bisa lebih bijak:

- Gunakan bambu atau tiang besi yang bisa dipakai ulang setiap tahun.

Manfaatkan pinang afkir dari kebun—pohon yang sudah tua atau tidak produktif lagi.

Buat bank batang pinang di daerah produsen, agar pasokan lomba tidak merusak kebun produktif.

Dengan cara ini, tradisi tetap hidup, tapi pohon pinang produktif tetap terjaga.


Pinang dalam “Panca Palma” Ir. Petrus Gunarso

Ir. Petrus Gunarso, Ph.D. memperkenalkan konsep Panca Palma: lima palma strategis Indonesia, yaitu sawit, aren, kelapa, sagu, dan pinang. Semua palma ini memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan benar.


Pinang, dalam paket “Panca Palma”, bukan sekadar pohon untuk lomba panjat pinang, tetapi komoditas perkebunan unggulan yang menopang perekonomian nasional dan kesejahteraan petani.


Karena itu, kini saatnya bijak memilih tiang Panjat Pinang untuk setiap acara pada keramaian 17 Agustusan. Mari kita simak data dan fakta yang berikut ini:

- 1.000–3.500 batang pinang bisa hilang setiap Agustusan di Jakarta saja.

- Padahal satu batang pinang bisa berbuah puluhan tahun dan menopang ekspor bernilai jutaan dolar.

- Tradisi panjat pinang tetap bisa dijaga, asal memakai tiang alternatif atau pinang non-produktif.

Mari selamatkan pohon pinang. Karena setiap batang yang ditebang, bukan hanya menghilangkan tiang lomba, tapi juga memotong masa depan ekonomi rakyat.

Penulis: Rangkaya Bada

Thank you for your comment

Post a Comment

Thank you for your comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post