Tahun deepan masih bisa pake lagi: Panjat tanpa tebang pinang. PG.
Menjelang perayaan HUT RI setiap 17 Agustus, tradisi panjat
pinang selalu menjadi momen paling dinanti di Indonesia. Namun, tradisi yang
seru ini ternyata sering meninggalkan jejak kerusakan lingkungan. Ribuan bahkan
jutaan pohon pinang dipotong atau dirusak untuk keperluan lomba.
Petrus Gunarso, seorang konservasiolog sekaligus penulis
buku serial Pancapalma, memperkenalkan inovasi bertajuk “Panjat Tanpa
Tebang Pinang”. Ide ini lahir dari keprihatinan Gunarso terhadap kerusakan
pohon pinang dan potensi ekonomi yang hilang dari sumber daya alam ini. Dengan
inovasi ini, masyarakat tetap bisa menikmati lomba panjat pinang, tetapi pohon
pinang tidak perlu ditebang atau dirusak.
“Tradisi panjat pinang harus tetap ada, tapi kita bisa
melakukannya dengan cara yang lebih bijak. Kita bisa menjaga alam sambil tetap
merayakan kemerdekaan,” ungkap Gunarso.
Nilai Ekonomis dan Manfaat Pohon Pinang
Menurut Gunarso, pohon pinang bukan hanya ikon lomba 17
Agustus, tetapi juga aset ekonomi yang penting. Buah pinang memiliki banyak
manfaat, termasuk digunakan dalam tradisi nginang di Papua, menjaga kesehatan
jantung, menambah energi, hingga melindungi hati dari kerusakan. Pelepah pinang
pun dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan, seperti piring, kerajinan
tangan, dan bahan bangunan ringan.
Di Provinsi Jambi, misalnya, masyarakat telah memanfaatkan
pelepah pinang menjadi produk bernilai jual tinggi. Langkah ini tidak hanya
mengurangi limbah tetapi juga memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat
lokal. “Bayangkan jika jutaan pohon pinang tetap tumbuh subur dan dimanfaatkan
secara ekonomis, dampaknya sangat besar untuk kesejahteraan masyarakat,” kata
Gunarso.
Selain itu, konservasi pohon pinang juga berperan dalam
menjaga ekosistem lokal. Pohon ini membantu menyerap karbon, memperkuat
struktur tanah, dan menjadi habitat bagi berbagai spesies satwa. Dengan menjaga
pohon pinang tetap hidup, tradisi dan lingkungan bisa berjalan beriringan.
Edukasi dan Kesadaran Konservasi
Inovasi “Panjat Tanpa Tebang Pinang” tidak hanya soal
metode lomba baru, tetapi juga edukasi bagi masyarakat. Gunarso berharap
masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga sumber daya alam dan menanamkan
kesadaran konservasi sejak dini.
Langkah ini juga sejalan dengan tren global untuk
menciptakan kegiatan ramah lingkungan. Pemerintah daerah, komunitas lingkungan,
dan sekolah-sekolah dapat mengadopsi metode ini sebagai bagian dari edukasi
lingkungan. Gunarso menekankan bahwa generasi muda adalah kunci keberlanjutan,
dan tradisi budaya dapat diselaraskan dengan upaya pelestarian alam.
Dengan inovasi ini, HUT RI bukan hanya menjadi ajang
hiburan, tetapi juga momentum edukasi, ekonomi, dan konservasi. Panjat pinang
bisa tetap seru, rakyat tetap merayakan, dan pohon pinang tetap lestari.
Penulis: Rangkaya Bada
Editor: Masri Sareb Putra
Post a Comment
Thank you for your comment