Sawit di antara Tuduhan Global dan Nafas Hidup Jutaan Keluarga

Sawit di antara Tuduhan Global dan Nafas Hidup Jutaan Keluarga
Sawit terbukti menghidupi jutaan keluarga. Dokpen.

Oleh Rangkaya Bada

Sawit bukan malaikat dan bukan pula iblis. Ia adalah cermin dari cara manusia mengelola sumber daya. Jika dikelola dengan keserakahan, maka sawit merusak. Namun, jika dikelola dengan nurani, sawit menghidupi.


Sawit selalu berada di posisi yang serba salah. Di satu sisi, ia dituding sebagai biang deforestasi, perusak lingkungan, dan simbol kerakusan kapital global. Di sisi lain, sawit adalah denyut ekonomi jutaan keluarga Indonesia, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari pusat kekuasaan dan sorotan media. 


Di ruang publik, narasi tentang sawit kerap disederhanakan menjadi hitam atau putih. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.


Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia. Fakta ini tak bisa dihindari dan sekaligus tak bisa dipandang enteng. Sawit telah mengubah wajah desa, membuka keterisolasian, dan menghadirkan mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dibayangkan.


 Namun, sawit juga membawa luka ekologis dan konflik agraria. Pertanyaannya bukan lagi “pro atau kontra sawit”, melainkan sawit seperti apa yang kita kehendaki.


Sawit dan Ekonomi Keluarga: Realitas yang Jarang Diceritakan

Di banyak kampung di Borneo dan Sumatra, sawit bukan sekadar komoditas ekspor. Ia adalah biaya sekolah anak, ongkos berobat orang tua, dan jaminan hidup ketika harga karet atau lada jatuh. Sawit mandiri, yang dikelola oleh petani kecil, telah menjadi penopang ekonomi keluarga saat negara sering kali hadir secara terbatas.


Petani sawit kecil bekerja dalam berbagai keterbatasan. Modal minim, akses pupuk tidak selalu lancar, dan harga tandan buah segar kerap berfluktuasi. Namun, dari kebun dua atau tiga hektare, mereka mampu bertahan. Tidak kaya, tetapi hidup. Tidak berlimpah, tetapi memiliki pijakan ekonomi. Inilah wajah sawit yang jarang tampil dalam diskursus global.


Ironisnya, ketika kampanye anti-sawit menggema di Eropa dan Amerika, suara petani kecil hampir tak terdengar. Sawit diserang sebagai produk rakus, sementara kehidupan jutaan keluarga yang bergantung padanya luput dari empati. Di sinilah ketimpangan narasi terjadi. Kritik global sering kali tidak sebanding dengan pemahaman atas realitas lokal.


Lingkungan Hidup: Luka Nyata yang Tak Boleh Disangkal

Membela sawit bukan berarti menutup mata terhadap kerusakan lingkungan. Deforestasi, kebakaran lahan, serta pencemaran sungai adalah fakta pahit yang harus diakui. Dalam banyak kasus, kerusakan tersebut dilakukan oleh korporasi besar yang mengejar keuntungan tanpa batas, bukan oleh petani kecil.


Masalah muncul ketika publik melakukan generalisasi. Semua sawit dianggap sama dan semua pelaku disamakan. Padahal, sawit korporasi dan sawit rakyat memiliki jejak ekologis yang berbeda. Petani kecil hidup berdampingan dengan alam karena mereka bergantung langsung pada tanah dan air. Ketika lingkungan rusak, masa depan mereka ikut terancam.


Yang dibutuhkan bukan pelarangan membabi buta, melainkan tata kelola yang adil dan tegas. Penegakan hukum terhadap perusahaan perusak lingkungan harus berjalan seiring dengan pendampingan petani agar mampu menerapkan praktik berkelanjutan. Sawit berkelanjutan bukan sekadar slogan kebijakan, melainkan tuntutan etis dan ekologis.


Sawit, Identitas Lokal, dan Martabat Orang Kampung

Di banyak wilayah pedalaman, sawit telah menggantikan peran ekonomi tradisional yang semakin terdesak. Namun, perubahan ini juga memunculkan dilema identitas. Ketika ladang, hutan adat, dan tembawang berubah menjadi hamparan sawit, pertanyaan mendasar muncul. Apa yang tersisa dari jati diri lokal?


Di sinilah pentingnya menempatkan masyarakat adat dan petani sebagai subjek pembangunan, bukan objek. Sawit tidak boleh meminggirkan budaya, apalagi merampas tanah ulayat. Pembangunan ekonomi yang memutus akar tradisi hanya akan melahirkan kemiskinan baru, yaitu kemiskinan makna dan martabat.


Sawit seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ia perlu dikelola dengan prinsip keadilan agar memperkuat posisi orang kampung sebagai tuan di tanahnya sendiri. Ketika sawit dikelola secara mandiri, transparan, dan berkeadilan, ia dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi tanpa mengorbankan identitas budaya.


Sawit yang Adil, Manusiawi, dan Berkelanjutan

Perdebatan tentang sawit kerap buntu karena sikap yang terlalu ekstrem. Ada yang membela tanpa kritik dan ada pula yang menolak tanpa empati. Padahal, jalan tengah selalu tersedia. Sawit harus ditempatkan dalam kerangka keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.


Negara memiliki peran kunci untuk memastikan regulasi ditegakkan, petani kecil dilindungi, dan lingkungan dijaga. Dunia internasional pun perlu bersikap jujur. Mengkritik kerusakan lingkungan tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan kehidupan rakyat kecil. Konsumen global menikmati produk berbasis sawit, maka tanggung jawab moral sepatutnya dipikul bersama.


Sawit bukan malaikat dan bukan pula iblis. Ia adalah cermin dari cara manusia mengelola sumber daya. Jika dikelola dengan keserakahan, maka sawit merusak. Namun, jika dikelola dengan nurani, sawit menghidupi. 


Masa depan sawit adalah soal pilihan. Apakah kita berpihak semata pada keuntungan, atau pada manusia dan alam secara bersamaan.

Thank you for your comment

Post a Comment

Thank you for your comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post