| SAWIT terbukti menjadi tumpuan ekonomi orang Dayak hari ini. Sawit mandiri dikembangkan, sawit perusahaan moratorium. Dokpri. |
Oleh Rangkaya Bada
Di banyak kampung Dayak di Kalimantan, halaman rumah dulu bukan sekadar ruang kosong. Ia adalah lanskap hidup. Di sanalah tumbuh pohon buah, tanaman obat, kayu bangunan, dan penanda silsilah keluarga.
Orang Dayak menyebutnya tembawang, ruang ekologis yang lahir dari kesabaran lintas generasi. Satu pohon durian bisa ditanam oleh kakek, dipanen oleh cucu, dan diwariskan kepada cicit.
Namun, dalam dua hingga tiga dekade terakhir, lanskap itu perlahan berubah. Di halaman dan belakang rumah, pohon sawit mulai berdiri. Awalnya satu dua batang, lalu bertambah, dan kini di beberapa kampung, sawit hadir hampir seragam. Dari kejauhan, kampung Dayak tampak menyatu dengan hamparan perkebunan di sekelilingnya.
Dari Tembawang ke Monokultur
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Ia datang bersama narasi pembangunan, janji ekonomi, dan tekanan struktural yang sering kali tak sepenuhnya dipahami warga. Ketika tanah adat di sekitar kampung dilepaskan kepada perusahaan, ruang hidup orang Dayak menyempit. Sawit pun masuk ke ruang yang paling dekat, halaman rumah sendiri.
Bagi sebagian keluarga, menanam sawit di pekarangan bukan pilihan ideologis, melainkan strategi bertahan. Ketika ladang makin jauh, hutan makin tipis, dan harga karet jatuh, sawit menjanjikan kepastian panen dua minggu sekali. Ia tidak menunggu musim, tidak mengenal paceklik panjang.
Namun, di balik kepastian itu, ada sesuatu yang hilang secara perlahan, sesuatu yang tak selalu bisa diukur dengan rupiah.
Ekonomi Rumah Tangga dan Logika Bertahan
Bagi orang Dayak, ekonomi selalu terkait dengan relasi alam. Berladang padi bukan semata urusan pangan, tetapi juga ritus, kalender sosial, dan pengetahuan ekologis. Ketika sawit masuk ke halaman rumah, logika ekonomi pun berubah. Alam tidak lagi diperlakukan sebagai mitra, melainkan sebagai aset produksi.
Sawit di pekarangan sering dianggap “sawit rakyat”. Ia ditanam tanpa perusahaan, tanpa inti-plasma. Namun benihnya, pupuknya, bahkan harga jualnya tetap terikat pada sistem industri besar. Buah sawit rakyat bergantung pada tengkulak dan pabrik, dengan posisi tawar yang lemah.
Di sinilah paradoks muncul. Sawit memang memberi uang tunai lebih cepat dibanding karet atau hasil hutan. Tetapi ia juga mengikat petani dalam siklus biaya: pupuk, herbisida, perawatan, dan ongkos angkut. Ketika harga turun, sawit di halaman rumah berubah dari penolong menjadi beban.
Beberapa orang tua Dayak mulai menyadari perubahan ini. Mereka melihat halaman rumah yang dulu hijau beragam kini panas dan sunyi. Burung berkurang, tanah mengeras, dan sumber air tak lagi sejernih dulu. Namun kesadaran ekologis sering kalah oleh kebutuhan ekonomi jangka pendek.
Bagi generasi muda, sawit di halaman rumah juga mengubah imajinasi masa depan. Anak-anak tumbuh dengan melihat sawit sebagai tanaman utama, bukan durian, tengkawang, atau rotan. Pengetahuan tentang hutan diwariskan semakin tipis, tergantikan oleh logika pasar.
Di titik ini, sawit tidak lagi sekadar tanaman. Ia menjadi simbol perubahan relasi antara orang Dayak dan tanahnya sendiri.
Tanah Adat, Ruang Privat, dan Tekanan Struktural
Masuknya sawit ke halaman dan belakang rumah tidak bisa dilepaskan dari persoalan tanah adat. Ketika wilayah adat belum diakui secara penuh, ruang hidup orang Dayak menjadi rapuh. Perkebunan besar mengepung kampung, menyisakan enclave kecil yang tertekan dari segala arah.
Dalam kondisi seperti itu, pekarangan rumah menjadi benteng terakhir. Menanam sawit di sana sering dipahami sebagai cara “mengamankan” tanah. Logikanya sederhana: tanah yang ditanami dianggap produktif, sehingga lebih sulit diklaim pihak lain.
Namun, strategi ini mengandung risiko jangka panjang. Ketika sawit menjadi satu-satunya tanaman, keragaman hayati di ruang privat pun lenyap. Tembawang sebagai sistem pengetahuan lokal kehilangan maknanya. Tanah adat secara kultural tergerus, meski secara fisik masih dimiliki.
Tekanan struktural juga datang dari kebijakan. Program-program pertanian sering kali mendorong komoditas tunggal, dengan indikator keberhasilan yang sempit: produksi dan pendapatan. Nilai budaya, keberlanjutan ekologis, dan kedaulatan pangan jarang menjadi pertimbangan utama.
Akibatnya, pilihan orang Dayak tampak bebas di permukaan, tetapi sesungguhnya dibatasi oleh sistem. Sawit hadir bukan karena ia paling sesuai dengan nilai lokal, melainkan karena alternatif lain makin sulit diakses.
Di banyak kampung, diskusi tentang masa depan tanah mulai muncul kembali. Para tetua adat, aktivis muda, dan peneliti lokal mencoba menghidupkan kembali gagasan tembawang modern: pekarangan yang produktif, tetapi beragam; menghasilkan uang, tetapi tetap menjaga warisan.
Mencari Jalan Tengah: Sawit, Identitas, dan Masa Depan
Pertanyaan pentingnya bukan apakah sawit harus ditolak sepenuhnya, melainkan bagaimana ia ditempatkan. Sawit di halaman rumah orang Dayak adalah fakta sosial yang tak bisa dihapus begitu saja. Yang bisa dilakukan adalah menata ulang relasinya dengan budaya dan alam.
Beberapa komunitas mulai bereksperimen. Sawit tidak lagi ditanam seragam, tetapi diselingi tanaman buah, sayur, dan obat. Pekarangan dipulihkan sebagai ruang hidup, bukan hanya kebun produksi. Di tempat lain, koperasi lokal mencoba memperkuat posisi tawar petani agar tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak.
Lebih dari itu, ada kesadaran baru bahwa menjadi “tuan di tanah sendiri” bukan hanya soal kepemilikan sertifikat, tetapi juga soal kendali atas pilihan hidup. Orang Dayak tidak anti perubahan. Sejarah mereka adalah sejarah adaptasi. Tetapi adaptasi selalu disertai kebijaksanaan memilih apa yang diambil dan apa yang ditinggalkan.
Sawit di halaman dan belakang rumah adalah cermin dari persimpangan besar yang sedang dihadapi Kalimantan. Ia memperlihatkan ketegangan antara ekonomi dan ekologi, antara tradisi dan modernitas, antara bertahan dan berdaulat.
Jika halaman rumah adalah ruang paling intim sebuah kebudayaan, maka perubahan di sana adalah sinyal paling jujur tentang arah masa depan. Pertanyaannya kini: akankah halaman rumah orang Dayak tetap menjadi ruang hidup yang beragam, atau berubah menjadi barisan sunyi tanaman tunggal?
Jawabannya tidak hanya berada di tangan orang Dayak, tetapi juga pada keberanian negara, pasar, dan masyarakat luas untuk menghormati cara hidup yang telah menjaga hutan jauh sebelum sawit dikenal.
Post a Comment
Thank you for your comment