Sawit di Halaman Rumah Penduduk Kalimantan Barat

Sawit di Halaman Rumah Penduduk Kalimantan Barat
Banyak keluarga di Kalimantan Barat menumpukan hidup dari sawitSawit setidaknya hingga waktu ini masih lebih menjanjikan daripada karet. Dokpri.

Oleh Masri Sareb Putra

Di halaman rumah yang tanahnya merah berdebu itu, tandan-tandan sawit menggunung. Bukan sekadar buah, melainkan penanda zaman. 

Di sanalah kita membaca perubahan. Di sanalah kita menyaksikan bagaimana sawit, suka atau tidak, telah menaikkan tingkat ekonomi penduduk Kalimantan Barat.


Saya melihatnya bukan dari angka statistik semata, melainkan dari wajah-wajah yang bekerja. Dari rumah-rumah yang dulu berdinding papan lapuk, kini temboknya dicat hijau, biru, atau krem. Dari sepeda motor yang terparkir di teras. Dari anak-anak yang bisa bersekolah lebih tinggi. 


Sawit telah menjadi lokomotif ekonomi rakyat. Ia bergerak bukan di ruang seminar, tetapi di kebun-kebun milik keluarga kecil, di tangan para petani yang memanggul dan menimbun tandan demi tandan.


Kita boleh berdebat tentang tata kelola, tentang harga TBS, tentang fluktuasi pasar global. Namun satu hal tak terbantahkan: bagi banyak keluarga di Kalimantan Baratsawit adalah sumber pendapatan yang relatif stabil. Setiap dua minggu panen. Setiap bulan ada uang berputar. Ada kepastian yang bisa direncanakan.


Bandingkan sawit dengan karet


Karet memang tanaman lama. Ia pernah menjadi primadona. Getahnya putih, harapannya juga pernah putih. Tetapi karet menuntut disiplin dan kerja ekstra keras. Menyadap dini hari, menjaga irisan tetap rapi, menghadapi hujan yang bisa menggagalkan produksi, lalu berhadapan dengan harga yang sering jatuh tanpa kompromi. Pendapatan dari karet sangat tergantung pada cuaca dan pasar. Sering kali, kerja kerasnya tak sebanding dengan hasilnya.


Banyak petani karet yang akhirnya mengakui kenyataan itu. Sawit, dengan segala kritiknya, menawarkan efisiensi tenaga dan kepastian hasil yang lebih menjanjikan. Sekali tanam, perawatan teratur, panen rutin. Dalam kalkulasi ekonomi rumah tangga, sawit sering kali unggul.


Maka tidak mengherankan jika kita menyusuri jalan Pontianak menuju Simpang Tayan, terus ke Sosok, Sanggau, Sekadau, hingga Sintang di wilayah timur Kalbar, pemandangan yang kita saksikan hampir seragam: kanan kiri jalan dipenuhi kebun-kebun sawit milik penduduk. Hamparannya seolah tak putus. Dari kebun plasma, kebun mandiri, hingga kebun kecil dua tiga hektare yang menjadi sandaran hidup keluarga.


Jalan raya itu seperti etalase transformasi ekonomi. Di balik setiap baris pohon sawit, ada cerita tentang cicilan rumah yang lunas, tentang anak yang kuliah di Pontianak, tentang keluarga yang tak lagi sepenuhnya bergantung pada ladang berpindah. 


Tentu, perubahan ini membawa konsekuensi sosial dan ekologis yang harus dikelola dengan bijak. Tetapi fakta di lapangan berbicara: sawit telah menggeser struktur ekonomi pedesaan.


Sebagai orang yang menaruh perhatian pada sejarah dan kearifan lokal, saya melihat sawit sebagai fase dalam perjalanan panjang masyarakat Kalimantan Barat. Dulu huma dan padi ladang menjadi pusat kehidupan. Lalu karet datang dan membentuk pola ekonomi tunai. Kini sawit mengambil peran dominan. Sejarah memang bergerak. Ia tak pernah diam.


Pertanyaannya bukan lagi apakah sawit ada atau tidak. sawit sudah ada. Sawit sudah menjadi realitas sosial-ekonomi. Yang perlu kita pastikan adalah bagaimana sawit dikelola agar penduduk tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri. Agar kebun-kebun di sepanjang Pontianak–Sintang itu bukan sekadar lanskap ekonomi, melainkan fondasi kemandirian.


Di halaman rumah dengan tumpukan tandan sawit itu, saya melihat bukan hanya buah yang siap dijual. Saya melihat harapan yang sedang ditimbang. 


Sejauh ini. Terutama bagi banyak keluarga di Kalimantan Barat. Sawit masih lebih menjanjikan daripada karet.

Thank you for your comment

Post a Comment

Thank you for your comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post