| Dayak turut menikmati booming sawit hari ini. Dok. Modestha Eliyati. |
Sanggau - Sawit Asia: Orang Dayak tengah mengalami transformasi historis dari petani padi tradisional menuju petani sawit mandiri yang berorientasi pasar. Perubahan ini tidak hanya mengubah pola produksi dan penghidupan, tetapi juga cara mereka memaknai tanah, kerja, dan masa depan. Di tengah arus modernisasi Borneo, kemandirian dalam usaha sawit menjadi penanda baru ketangguhan ekonomi Dayak.
Suku Dayak bukan lagi sekadar etnis minoritas di pedalaman Borneo; mereka telah menjadi kekuatan demografis yang signifikan. Menurut estimasi Masri Sareb Putra dalam studi tahun 2019 yang disajikan di Rakernas Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) di Samarinda, populasi Dayak sedunia mencapai sekitar 8 juta jiwa, dengan konsentrasi utama di Kalimantan Indonesia dan Sarawak, Malaysia.
Angka populasi Dayak hari ini mencakup lebih dari 405 sub-etnis, mulai dari Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah hingga Iban di Sarawak, yang kini tersebar hingga Sabah dan Brunei.
Dayak hari ini
Di Indonesia, sensus BPS 2010 mencatat 2,67 juta Dayak di Kalimantan, atau 19,49% dari total penduduk pulau itu. Data BPS 2023 menunjukkan populasi Kalimantan secara keseluruhan mencapai 18 juta jiwa, dengan Dayak mendominasi di Kalimantan Barat (34,93% atau sekitar 2,3 juta jiwa) dan Kalimantan Tengah (sekitar 1 juta jiwa).
Di Sarawak, populasi Dayak
(termasuk Iban, Bidayuh, dan Orang Ulu) mencapai 2,5 juta jiwa dari total 2,8
juta penduduk negara bagian itu, menurut data Departemen Statistik Malaysia 2022.
Proyeksi ICDN 2025 memperkirakan total mencapai 8,5 juta, didorong oleh migrasi
internal dan urbanisasi.
Pertumbuhan ini bukan tanpa tantangan. Sejarah Dayak dimulai
dari bukti arkeologis di Gua Niah, Sarawak, berusia 40.000 tahun, menjadikan
mereka penduduk asli Borneo. Namun, kolonialisme Belanda dan Inggris, serta
migrasi Melayu, mendorong Dayak ke pedalaman. Kini, dengan akses pendidikan
yang lebih baik, generasi muda Dayak pindah ke kota seperti Pontianak dan
Kuching, mencari peluang di sektor jasa dan industri. "Populasi kami bukan
hanya angka; itu adalah kekuatan budaya yang bangkit," papar Masri Sareb Putra,
peneliti Dayak, dalam Munas ICDN 2019 di Samarinda.
Di Sarawak, Dayak Iban mendominasi dengan 600.000 jiwa,
banyak yang kini terlibat dalam politik sebagai bagian Sarawak Dayak National
Union (SDNU). Sementara di Kalimantan, sub-etnis seperti Ot Danum di Gunung Mas
bertahan dengan tradisi rumah betang, meski tekanan urbanisasi mengancam. BPS
memproyeksikan pertumbuhan 1,5% per tahun hingga 2030, didukung program
pemerintah seperti transmigrasi terbalik yang mengembalikan Dayak ke tanah
asal. Namun, deforestasi akibat sawit mengancam 30% lahan adat, menurut laporan
WALHI 2024. Populasi yang besar ini menjadi modal utama bagi kemajuan ekonomi,
tapi juga menuntut kebijakan inklusif untuk menjaga identitas.
Dayak Modern: Kemajuan Pendidikan dan Ekonomi Melalui Credit Union Gereja Katolik
Dayak hari ini jauh dari stereotip "primitif" masa
lalu. Mereka telah maju pesat di pendidikan dan ekonomi, dengan Credit Union
(CU) sebagai katalisator utama. Diperkenalkan Gereja Katolik pada 1970-an, CU
memutus rantai kemiskinan struktural di kalangan Dayak, seperti diuraikan Masri
dan Mering dalam studi 2025 tentang pemberdayaan ekonomi adat.
Pendidikan menjadi fondasi. Tingkat melek huruf Dayak
mencapai 95% pada 2023, naik dari 70% di 2000, menurut BPS Kalimantan Barat.
Universitas seperti Universitas Palang Raya kini melahirkan ribuan sarjana
Dayak, dengan 40% lulusan di bidang ekonomi dan teknik. "Pendidikan bukan
lagi mimpi; itu hak kami," ujar Kumpiady Widen, dosen Universitas Palang
Raya, dalam jurnal JISPAR 2023. Di Sarawak, Dayak mendominasi universitas
negeri, dengan 30% mahasiswa berasal dari etnis ini.
Ekonomi Dayak melonjak berkat CU. Diperkenalkan Pastor Karl
Albrecht SJ pada 1975 di Sanggau, CU pertama seperti CU Lantang Tipo
membebaskan Dayak dari rentenir. Hingga 2025, Puskopdit BKCU Kalimantan
mengelola 56 CU dengan 1,8 juta anggota (32,7% populasi Kalbar), aset Rp15,3
triliun, dan pertumbuhan 10% tahunan. CU Pancur Kasih (1987) dan Keling Kumang
fokus pada Dayak, menyediakan pinjaman murah untuk usaha kecil, memutus siklus
utang struktural. Studi Masri dan Mering (2025) menunjukkan CU meningkatkan pendapatan
rumah tangga Dayak 40% sejak 2010, dengan 70% anggota kini mandiri secara
finansial.
Di Sarawak, model serupa melalui Sarawak Dayak Credit Union
mendukung 500.000 anggota, fokus pada perempuan Dayak untuk usaha tenun dan
ekowisata. Tantangan tetap ada: 20% Dayak masih di bawah garis kemiskinan,
menurut BPS 2024. Namun, CU telah inkulturasi dengan nilai Dayak seperti gotong
royong, menjadikannya "bank adat" yang inklusif lintas agama.
"CU bukan pinjaman; itu solidaritas," kata Anselmus Robertus Mecer,
ketua Puskopdit, dalam laporan 2025. Kemajuan ini membuka pintu bagi Dayak di
sektor formal, dengan 15% kini bekerja di pemerintahan dan swasta.
Booming Sawit dan Masyarakat Dayak
Ketika kelapa sawit booming sejak 2000-an, Dayak tidak hanya
menjadi korban; mereka ikut menikmatinya berkat lahan adat yang luas. Di
Indonesia, sawit menyumbang 4,5% PDB nasional pada 2024, dengan Kalimantan
produksi 60% minyak sawit dunia. Dayak, pemilik 70% lahan hutan Borneo, kini
punya kebun plasma dan pabrik Crude Palm Oil (CPO).
Di Kalimantan Barat, 43 perusahaan sawit di Sanggau
melibatkan 50.000 petani Dayak, menghasilkan Rp5 triliun per tahun. Program
plasma pemerintah wajib 20% lahan konsesi untuk petani lokal, memungkinkan
Dayak seperti di Desa Teluk Bakung miliki 2.000 ha kebun. Di Kalimantan Tengah,
Dayak Ngaju kelola 1 juta ha sawit rakyat, tingkatkan PDRB 15%.
Sarawak lebih maju: Dayak Iban punya 300.000 ha kebun dan 10
pabrik CPO, kontribusi 20% ekspor negara bagian. SDNU dorong kemitraan,
hasilkan RM2 miliar (Rp7 triliun) bagi 100.000 petani Dayak. "Lahan kami
jadi aset, bukan beban," kata tokoh Dayak Sarawak William Mawan.
Namun, konflik muncul: 101 kasus agraria sawit di 2020,
banyak libatkan Dayak vs perusahaan. Laporan HRW 2019 catat 93 keluarga Dayak
Iban kehilangan hutan di Bengkayang. Pemerintah respons dengan Perda Pengakuan
Adat di Bengkayang (2019), lindungi 500.000 ha lahan Dayak. Boom ini angkat
ekonomi Dayak, tapi butuh regulasi kuat untuk keadilan.
Transisi Petani Tradisional ke Sawit: Gambar Ilustrasi Kemakmuran Dayak yang Nyata
Bayangkan gambar ilustrasi: Seorang Dayak Ngaju di ladang
tradisional berganti parang dengan sabit panen sawit, latar belakang rumah
betang berdampingan pabrik CPO. Itu realitas transisi Dayak dari petani
subsisten ke petani sawit modern, bawa kemakmuran tapi geser tradisi.
Dulu, Dayak bergantung perladangan berpindah, hasilkan padi
dan rotan untuk subsisten. Kini, 60% Dayak Kalimantan jadi petani sawit,
produksi 10 ton/ha/tahun, pendapatan Rp50 juta per rumah tangga. Di Sintang, Banai,
petani Dayak, naikkan hasil dari 600 kg/plot mandiri jadi 1.200 kg via
kemitraan PSR. Program replanting BPDPKS dukung 500.000 ha, tambah Rp2 triliun
pendapatan petani.
Di Sanggau, perempuan Dayak Hibun sisipkan sawah subsisten
di kebun sawit, untuk menjaga ketahanan pangan. Pendapatan naik 50%, beli truk dan
bangun masjid, seperti Babe di Pelalawan yang punya 9 truk sawit. Di Sarawak,
Dayak Iban ekspor CPO ke Eropa, hasilkan RM1 miliar.
Tapi, transisi ini kontroversial. HRW laporkan Dayak Iban di
Jagoi Babang kehilangan hutan, tinggal akses lahan terbatas. Di Kutai Timur,
Dayak Modang blokade jalan tuntut lahan adat dari PT SAWA. "Sawit beri
uang, tapi rampas jiwa kami," kata Leni, warga Kembayan, Kabupaten Sanggau.
Pemerintah dorong PSR inklusif, tapi WALHI catat 122 konflik 2020. Transisi ini
sukses jika seimbang: 70% petani Dayak kini makmur, tapi 30% hadapi utang
plasma.
Dayak kini berada pada masa transisi: kemakmuran sawit yang mengangkat 8 juta jiwa, tapi pelestarian adat krusial. Dengan CU dan regulasi, masa
depan cerah.
"Kami bukan lagi hulu sungai; kami arus utama
Borneo," kata Tanto Yakobus, seorang cendekiawan di Sekadau sekaligus petani sawit mandiri.
Penulis: Hertanto Torunas Moncas.
Post a Comment
Thank you for your comment