2 Hektar Sawit Cukup Menghidupi 1 Keluarga

satu keluarga 2 hektar sawit.
2 hektar sawit cukup menghidupi sekeluarga Dokpen.

Oleh Masri Sareb Putra

Di banyak desa di Sumatra dan Kalimantan, pertanyaan ini kerap muncul di beranda rumah, di bawah pohon rambutan, atau di pondok kebun saat panen selesai. Apakah dua hektar sawit cukup untuk menghidupi satu keluarga? 


Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah sesingkat hitungan di atas kertas.


Sawit bukan sekadar pohon. Ia adalah sistem hidup yang melibatkan tanah, pupuk, tenaga kerja, harga pasar, cuaca, dan kesabaran. Untuk memahami jawabannya, kita perlu turun ke kebun, menghitung pelan-pelan, dan melihat bagaimana angka-angka itu bekerja dalam kehidupan sehari-hari petani.


Berapa Pohon Sawit per Hektar?

Satu hektar kebun sawit umumnya ditanami sekitar 140 hingga 160 pohon. Angka ini bukan asal-asalan. Jarak tanam dirancang agar setiap pohon mendapat cahaya matahari yang cukup, ruang tumbuh yang memadai, serta akses nutrisi dari tanah. Terlalu rapat, pohon saling berebut unsur hara. Terlalu jarang, lahan menjadi tidak efisien.


Jika digunakan angka yang paling umum di kebun rakyat, yakni sekitar 150 pohon per hektar, maka dua hektar berarti kurang lebih 300 pohon sawit. Ketika memasuki usia produktif, sekitar empat hingga dua puluh lima tahun, setiap pohon akan berbuah terus sepanjang tahun.


Inilah keunggulan sekaligus tantangan sawit. Ia tidak mengenal musim panen tunggal seperti padi. Sawit berbuah terus, sehingga pendapatan bersifat rutin, tetapi juga bergantung pada konsistensi perawatan.


Berapa Hasilnya Sekali Panen?

Sawit dipanen rata-rata dua kali dalam sebulan, dengan jarak sekitar sepuluh hingga empat belas hari. Setiap panen, tandan buah segar yang matang dipotong, dikumpulkan, lalu diangkut keluar kebun.


Di kebun rakyat dengan pengelolaan sedang, produksi umumnya berada pada kisaran satu hingga satu setengah ton tandan buah segar per hektar per bulan. Angka ini mencerminkan kondisi kebun yang tidak ideal, tetapi juga tidak ditelantarkan.


Dengan demikian, dua hektar sawit menghasilkan sekitar dua hingga tiga ton per bulan. Jika diambil angka tengah, yakni dua setengah ton per bulan, itulah gambaran realistis produksi sawit keluarga petani kecil.


Harga tandan buah segar di tingkat petani bervariasi, tetapi sering berada di kisaran seribu delapan ratus hingga dua ribu lima ratus rupiah per kilogram. Untuk perhitungan konservatif, digunakan harga dua ribu rupiah per kilogram.


Maka pendapatan kotor bulanan adalah dua ribu lima ratus kilogram dikali dua ribu rupiah, atau sekitar lima juta rupiah per bulan. Dalam setahun, pendapatan kotor mencapai sekitar enam puluh juta rupiah. Namun, pendapatan kotor bukanlah pendapatan bersih.


Menghitung Laba Bersih

Sawit memerlukan biaya rutin yang tidak kecil. Pertama adalah pupuk. Sawit merupakan tanaman yang sangat membutuhkan unsur hara. Tanpa pemupukan rutin, produktivitas akan menurun tajam. Untuk kebun rakyat, biaya pupuk berkisar tiga hingga lima juta rupiah per hektar per tahun. Untuk dua hektar, biaya pupuk sekitar delapan juta rupiah per tahun.


Kedua adalah pemeliharaan kebun, seperti penyiangan gulmapengendalian hama, dan pemangkasan pelepah. Biaya ini rata-rata sekitar dua juta rupiah per hektar per tahun, atau empat juta rupiah untuk dua hektar.


Ketiga adalah biaya tenaga kerja, terutama untuk panen. Baik dikerjakan sendiri maupun oleh buruh, tenaga kerja tetap memiliki nilai ekonomi. Dalam praktik lapangan, biaya tenaga kerja panen dan perawatan kebun dapat mencapai dua puluh hingga dua puluh lima juta rupiah per hektar per tahun. Untuk dua hektar, angkanya bisa mendekati empat puluh lima juta rupiah.


Keempat adalah biaya transportasi dan pengeluaran lain yang sering luput dihitung, seperti perbaikan alat panen dan ongkos angkut. Biaya ini bisa mencapai sekitar tiga juta rupiah per tahun.


Jika seluruh biaya dijumlahkan, total pengeluaran tahunan untuk dua hektar sawit berada di kisaran enam puluh juta rupiah. Angka ini hampir setara dengan pendapatan kotor tahunan.


Artinya, dalam kondisi produksi sedang dan biaya relatif tinggi, keuntungan bersih dari dua hektar sawit bisa sangat tipis, bahkan nyaris tidak ada.


Cukupkah Dua Hektar Sawit?

Jawabannya bergantung pada banyak faktor. Jika produksi meningkat, misalnya karena kebun dikelola lebih baik dan pupuk diberikan tepat waktu, pendapatan bisa naik signifikan. Jika biaya tenaga kerja ditekan karena dikerjakan oleh keluarga sendiri, margin keuntungan juga membesar.


Dalam kondisi terbaik, dua hektar sawit bisa memberi pendapatan bersih dua hingga empat juta rupiah per bulan. Jumlah ini cukup untuk hidup sederhana di desa, tetapi belum bisa disebut sejahtera.


Karena itu, dua hektar sawit sejatinya adalah batas minimum agar sebuah keluarga petani bisa bertahan. Tanpa kebun tambahan atau sumber penghasilan lain, keluarga petani sawit sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan kenaikan biaya produksi.


Kerja keras dan koinsistensi

Dua hektar sawit bisa menghidupi satu keluarga, tetapi bukan tanpa syarat. Namun, usaha ini menuntut kerja yang konsisten, perhitungan yang cermat, dan pengelolaan yang disiplin. Sawit bukan mesin uang, melainkan ladang yang hidup bersama petaninya.


Di balik angka-angka itu, ada tanah yang dirawat, ada pohon yang dipelihara, dan ada keluarga yang menggantungkan hidup pada hasil panen yang datang dua kali sebulan. Sawit, pada akhirnya, bukan soal luas lahan semata, melainkan soal bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya dengan realistis dan berkelanjutan.

Thank you for your comment

Post a Comment

Thank you for your comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post