Penduduk setempat wajib turut menikmati booming sawit sebagai ujud keadilan distributif sekaligus keadilan sosial. Gambar: Dokpen.
Oleh Hertanto Torunas Moncas
Lahan idealnya jangan digarap semua untuk Sawit. Perlu dipikirkan adanya Jalan Tengah antara Ekonomi dan Konservasi Masyarakat Adat. Masyarakat wajib turut menikmati booming sawit di daerahnya, janganhanya menjadi penonton. Ini adalah ujud keadilan distributif, sekaligus keadilan sosial.
Tidak bisa dimungkiri. Sawit telah mengubah wajah ekonomi banyak komunitas masyarakat adat di Borneo. Ia hadir sebagai sumber penghidupan yang nyata. Bukan wacana. Bukan teori. Tetapi pengalaman sehari-hari.
Sawit membawa uang tunai ke kampung. Membuka akses jalan. Membuat anak-anak bisa sekolah lebih lama. Orang tua dapat berobat tanpa harus menjual hasil hutan secara sporadis. Dalam banyak kasus. Sawit menjadi jalan keluar dari kemiskinan struktural yang berlangsung lama.
Karena itu. Sawit tidak layak diposisikan semata sebagai musuh. Ia telah memberi kontribusi signifikan bagi kesejahteraan masyarakat adat. Terutama dalam jangka pendek dan menengah.
Namun sejarah pembangunan selalu mengajarkan satu pelajaran penting. Ketika satu komoditas menjadi pilihan tunggal. Maka risiko kolektif mulai menumpuk. Dan ketika seluruh lahan diarahkan untuk satu fungsi ekonomi. Maka ruang hidup perlahan menyempit.
Di banyak wilayah adat. kini muncul kecenderungan baru. Hampir semua lahan diarahkan menjadi kebun sawit. Dari tepi sungai. Hingga bukit. Dari tanah warisan. Hingga kawasan yang seharusnya dijaga.
Di sinilah alarm harus dibunyikan.
Sawit Bukan Musuh. Tetapi Monokultur adalah Masalah
Sawit bukan untuk ditolak. Tetapi juga tidak boleh menjadi satu-satunya pilihan. Jalan tengah harus dibangun dengan kesadaran dan perencanaan jangka panjang.
Masalah utama bukan pada sawit itu sendiri. Tetapi pada praktik monokultur total. Ketika semua lahan digarap. Ketika tidak ada ruang konservasi. Ketika hutan dianggap sisa. Dan tanah direduksi menjadi angka ekonomi semata.
Ketergantungan pada satu komoditas selalu berbahaya. Harga bisa jatuh. Produksi bisa terganggu. Penyakit tanaman bisa datang. Ketika itu terjadi. masyarakat adat menjadi pihak paling rentan.
Lebih dari itu. hilangnya ruang konservasi berarti hilangnya sistem pengetahuan lokal. Hilangnya tembawang. Hilangnya hutan obat. Hilangnya ruang belajar alam bagi generasi muda.
Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan rusaknya ruang hidup generasi masa depan. Kalimat ini bukan slogan romantik. Ia lahir dari pengalaman panjang masyarakat adat yang telah berkali-kali membayar mahal kesalahan pembangunan.
Sawit boleh hadir. Tetapi ia harus ditempatkan secara proporsional. Dengan batas. Dengan tata ruang. Dengan visi lintas generasi.
Lahan Adat sebagai Ruang Hidup dan Warisan Leluhur
Bagi masyarakat adat. lahan bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah ruang hidup. Di atas tanah itulah identitas dibentuk. Nilai diwariskan. Ritual dijalankan. Dan sejarah ditanamkan.
Lahan adalah warisan leluhur. Bukan hanya untuk generasi sekarang. Tetapi untuk anak cucu. Bahkan untuk mereka yang belum lahir.
Lahan menyediakan sumber air. Menjaga mata air tetap hidup. Menjadi hutan obat. Tempat tumbuhnya tanaman penyembuh yang menjadi dasar pengetahuan pengobatan tradisional.
Lahan juga berfungsi sebagai penyangga alam. Menjaga keseimbangan iklim mikro. Menahan panas. Mengatur siklus air.
Jika seluruh lahan adat berubah menjadi kebun sawit. Maka kearifan lokal perlahan hilang. Karena tidak lagi dipraktikkan. Tidak lagi relevan dalam keseharian.
Ketergantungan ekonomi meningkat. Daya lenting masyarakat adat melemah. Padahal daya lenting inilah yang selama berabad-abad membuat mereka bertahan menghadapi perubahan zaman.
Mengorbankan daya lenting sama dengan mempertaruhkan masa depan.
Konservasi sebagai Investasi Sosial dan Ekologis
Lahan konservasi sering dianggap penghambat pembangunan. Padahal sebaliknya. Ia adalah investasi jangka panjang. Baik secara ekologis maupun sosial.
Hutan berfungsi sebagai penyeimbang alam. Menjaga keanekaragaman hayati. Menjadi benteng terhadap perubahan iklim lokal. Tanpa hutan. suhu meningkat. Pola hujan berubah. Risiko bencana naik.
Hutan menyerap karbon. Menghasilkan oksigen. Mengurangi panas ekstrem akibat monokultur sawit yang luas dan seragam. Secara ekologis. sawit tidak memiliki fungsi penyangga seperti hutan alami.
Akar pohon hutan menahan tanah. Mencegah longsor. Mengurangi banjir. Menekan sedimentasi sungai. Ketika hutan hilang. Bencana datang bukan sebagai ancaman. Tetapi sebagai kepastian.
Lahan konservasi juga menjaga stabilitas sosial. Ia menjadi ruang cadangan. Ketika ekonomi sawit terguncang. Ketika harga jatuh. Ketika gagal panen. Lahan yang dijaga menjadi penyangga terakhir kehidupan.
Karena itu. masyarakat adat perlu memetakan wilayahnya secara sadar. Mana yang untuk sawit. Mana yang untuk pangan. Mana yang harus dilindungi. Dan mana yang tidak boleh disentuh.
Negara. pemerintah daerah. gereja. lembaga adat. dan akademisi berperan penting. Namun kunci utamanya tetap pada kesadaran kolektif masyarakat adat sendiri.
Sawit bukan musuh, tetapi lahan yang habis adalah sumber bencana
Jalan tengah antara ekonomi dan konservasi bukanlah pilihan idealis yang lahir dari ruang seminar atau meja akademik. Ia justru tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat adat dalam mengelola ruang hidupnya.
Selama berabad-abad. masyarakat adat telah mempraktikkan keseimbangan antara mengambil dan menjaga. Antara memanfaatkan alam dan memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri.
Dalam konteks hari ini. jalan tengah berarti mengakui sawit sebagai sumber ekonomi yang sah. sekaligus menetapkan batas yang jelas agar tidak seluruh lahan digarap tanpa perhitungan. Rasionalitasnya terletak pada keberlanjutan. karena ekonomi yang hanya kuat hari ini tetapi rapuh esok hari bukanlah kemajuan.
Pilihan rasional ini juga menyangkut soal kedaulatan. Masyarakat adat hanya bisa berdaulat jika memiliki pilihan. Jika seluruh ruang hidup dikunci oleh satu komoditas. maka kedaulatan itu perlahan hilang.
Dengan menjaga sebagian lahan sebagai ruang konservasi. pangan. dan sumber pengetahuan lokal. masyarakat adat mempertahankan kendali atas masa depannya sendiri. Mereka tidak sepenuhnya tunduk pada fluktuasi pasar. tidak sepenuhnya bergantung pada satu sistem ekonomi. Inilah makna kesejahteraan yang utuh. sejahtera secara ekonomi. tetapi juga utuh secara ekologis. sosial. dan kultural.
Post a Comment
Thank you for your comment