Sawit Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

 

Sawit Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal
Lahan jangan dihabiskan untuk Sawit semata, sebab ia monokultur. Idealnya, 1: 5, 1 hektar sawit, 5 hektar non-sawit dan lahan konservasi. Gambar: Kek Kae.

Oleh Hertanto Torunas Moncas

Sawit tidak memiliki daya ikat tanah sekuat hutan alami. Kalimat ini terdengar teknis, nyaris datar. Tetapi di baliknya tersimpan satu kenyataan ekologis yang keras dan tak bisa ditawar.

Hutan alami adalah sistem hidup yang kompleks: akar pohon berlapis-lapis, serasah yang menutup tanah, mikroorganisme yang bekerja diam-diam menjaga kesuburan, serta siklus air yang berjalan pelan namun pasti. 


Sawit, betapapun rapi barisannya, adalah monokultur. Ia tidak dibangun untuk merawat tanah, melainkan untuk memanen hasil secepat mungkin.


Ketika hutan ditebang dan digantikan sawit, tanah memang tidak langsung runtuh. Pada tahun-tahun awal, sawit tampak subur, hijau, menjanjikan. Namun di situlah ilusi dimulai.


Akar sawit yang dangkal tidak mampu menahan tanah sebagaimana akar pohon hutan. Air hujan yang dulu diserap perlahan kini mengalir deras di permukaan. Erosi meningkat. Unsur hara tercuci. Tanah kehilangan napas panjangnya.


“Ketika hutan hilang, bencana datang bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai kepastian.”


Kalimat ini bukan retorika. Ia adalah kesimpulan dari banyak peristiwa: banjir yang datang lebih sering, longsor di lereng yang dulu hijau, sungai yang keruh dan dangkal, serta mata air yang pelan-pelan menghilang. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat logis dari rusaknya daya ikat tanah.


Di Borneo, tanah bukan sekadar media tanam. Tanah adalah ingatan. Ia menyimpan jejak ladang, kebun buah, tembawang, kubur leluhur, dan jalur hidup yang diwariskan lintas generasi. Ketika tanah rusak, yang runtuh bukan hanya struktur ekologis, tetapi juga struktur sosial dan kultural masyarakat adat.


Risiko Jangka Panjang: Ketika Sawit Menjadi Takdir Tunggal

Apa yang terjadi jika seluruh lanskap dipaksa menjadi sawit? Pertanyaan ini jarang diajukan dengan jujur, karena jawaban jangka panjangnya tidak selalu menguntungkan generasi hari ini. Namun justru di situlah tanggung jawab moral kita diuji.


  1. Pertama, penurunan kesuburan tanah. Sawit menuntut input tinggi: pupuk kimia, herbisida, pestisida. Dalam jangka panjang, tanah menjadi lelah. Ia kehilangan mikroorganisme alami yang dulu menjaga kesuburan. Produktivitas turun, biaya naik. Ketika harga sawit jatuh, petani kecil terjepit di antara tanah yang rusak dan pasar yang tidak ramah.
  2. Kedua, krisis air bersih. Hutan adalah menara air alami. Ia menyimpan air hujan dan melepaskannya perlahan melalui mata air dan sungai. Ketika hutan hilang, siklus ini putus. Sungai meluap saat hujan, mengering saat kemarau. Desa-desa yang dulu tidak pernah membeli air kini harus bergantung pada air galon. Ini ironi besar di tanah yang dulu disebut paru-paru dunia.
  3. Ketiga, ketergantungan tunggal pada harga sawit. Monokultur ekonomi adalah risiko laten. Ketika satu komoditas menjadi segalanya, masyarakat kehilangan daya lenting. Harga sawit ditentukan pasar global, bukan oleh petani di kampung. Ketika harga turun, tidak ada jaring pengaman ekonomi yang cukup kuat.
  4. Keempat, konflik lahan antar generasi Generasi hari ini menjual atau menggadaikan tanah demi kebutuhan jangka pendek. Generasi berikutnya mewarisi konflik, bukan lahan. Mereka tumbuh di tanah sendiri, tetapi tidak lagi menjadi tuan di atasnya.
  5. Kelima, dan yang paling sunyi, anak cucu kehilangan ruang hidup. Mereka kehilangan hutan untuk belajar, sungai untuk bermain, ladang untuk berdaulat pangan, dan ruang spiritual untuk mengenali jati diri.


“Apa yang kita nikmati hari ini bisa menjadi beban berat bagi generasi berikutnya.”


Kalimat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Bukan untuk menolak sawit, tetapi untuk menolak cara berpikir yang serba hari ini.


 Jalan Tengah: Sawit Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Kritik tanpa solusi adalah kemarahan yang buntu. Karena itu, masyarakat adat tidak pernah berpikir dalam dikotomi hitam-putih: hutan atau sawit. Yang mereka tawarkan adalah "keseimbangan".


Tidak semua lahan harus digarap. Ini prinsip pertama. Dalam kosmologi Dayak, alam tidak diciptakan untuk dieksploitasi habis, melainkan untuk dirawat agar tetap memberi hidup. Karena itu, pembagian fungsi lahan adat menjadi sangat relevan hari ini.


Pertama, lahan produksi, termasuk sawit, ditempatkan secara terbatas dan terukur. Sawit boleh menjadi jalan ekonomi hari ini, tetapi bukan satu-satunya jalan.


Kedua, lahan pangan. Ladang padi, kebun sayur, kebun buah, dan tembawang harus dipertahankan. Di sinilah kedaulatan pangan dijaga. Masyarakat yang bisa makan dari tanahnya sendiri tidak mudah diguncang krisis.


Ketiga, lahan konservasi. Hutan adat, kawasan lindung, sempadan sungai, dan bukit-bukit tertentu harus ditetapkan sebagai wilayah yang tidak boleh diganggu. Bukan karena romantisme, tetapi karena fungsi ekologisnya mutlak.


Penetapan kawasan lindung adat bukan nostalgia masa lalu. Ia adalah strategi masa depan. Di sinilah hukum adat menemukan relevansinya kembali. Penguatan hukum adat untuk perlindungan hutan bukan langkah mundur, melainkan lompatan ke depan yang menggabungkan pengetahuan lokal dengan tantangan ekologis global.


Sawit berkelanjutan bukan slogan korporasi semata. Ia harus berakar pada kearifan lokal, pada pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup berabad-abad di hutan.


Pemimpin Adat dan Generasi Muda: Penjaga Nilai dan Penjaga Masa Depan

Setiap peradaban bertahan bukan karena kekuatan ekonominya semata, tetapi karena kepemimpinan moral. Dalam konteks masyarakat adat, pemimpin adat adalah penjaga nilai. Mereka bukan sekadar pengatur upacara, tetapi penentu arah.


Pemimpin adat perlu berdiri tegak, bahkan ketika godaan ekonomi datang bertubi-tubi. Mereka perlu berani mengatakan bahwa tanah tidak hanya untuk dijual, dan hutan tidak hanya untuk ditebang. Keputusan hari ini akan diingat puluhan tahun ke depan—entah sebagai warisan kebijaksanaan atau sebagai sumber penyesalan.


Di sisi lain, generasi muda adalah penjaga masa depan. Mereka hidup di persimpangan zaman: antara tradisi dan modernitas, antara sawit dan konservasi, antara kebutuhan ekonomi dan panggilan ekologis. Mereka perlu dibekali kesadaran bahwa kemajuan tidak identik dengan penyeragaman lanskap.


Perlu kesadaran kolektif bahwa:

tanah tidak hanya untuk dijual,

hutan tidak hanya untuk ditebang.


Sawit boleh menjadi jalan ekonomi hari ini.

Konservasi adalah jaminan hidup esok hari.


Masyarakat adat menjadi besar bukan karena menaklukkan alam, tetapi karena mampu hidup selaras dengannya. Di sanalah letak kebijaksanaan yang sering dilupakan oleh logika pembangunan modern.


“Kemajuan sejati masyarakat adat bukan diukur dari luas kebun sawit, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan antara kesejahteraan dan kelestarian alam.”


Kalimat ini bukan penutup. Ia adalah pengingat. Bahwa tanah, hutan, dan manusia terikat dalam satu nasib yang sama. Ketika salah satunya rusak, yang lain akan menyusul.

Ketika keseimbangan dijaga, masa depan menemukan harapannya kembali.

Thank you for your comment

Post a Comment

Thank you for your comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post